Author Archives: rantoalciripong

PRAKTIKUM FISIKA: menentukan Massa Jenis Benda, Percepatan Grafitasi,& indeks Bias Kaca Plan Paralel

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

MENENTUKAN MASSA JENIS BENDA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NAMA

:

SURANTO
KELAS

:

XII.IPA.2
NO.ABSEN

:

34

Oleh;

 

 

SMA MUHAMMADIYAH WONOSOBO

 

 

 

MENENTUKAN MASSA JENIS BENDA

  1. A.     TUJUAN :

Untuk menentukan massa jenis kelereng

 

  1. B.      PELAKSANAAN:

Hari/ tanggal                : Kamis, 23 Februari 2012.

Waktu                            : Pukul 07:30 WIB – selesai.

Tempat                          : Laboratorium Fisika SMA Muhammadiyah 1 Wonosobo.

 

  1. C.      DASAR TEORI :

Massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air).

Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg·m-3)

Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.

Rumus untuk menentukan massa jenis adalah

 

dengan ρ adalah massa jenis, m adalah massa, dan V adalah volume.

Satuan massa jenis dalam ‘CGS [centi-gram-sekon]‘ adalah: gram per sentimeter kubik (g/cm3).

1 g/cm3=1000 kg/m3

Massa jenis air murni adalah 1 g/cm3 atau sama dengan 1000 kg/m3

Selain karena angkanya yang mudah diingat dan mudah dipakai untuk menghitung, maka massa jenis air dipakai perbandingan untuk rumus ke-2 menghitung massa jenis, atau yang dinamakan ‘Massa Jenis Relatif’

 

 

 

Rumus massa jenis relatif = Massa bahan / Massa air yang volumenya sama

Nama zat

ρ dalam kg/m3

ρ dalam gr/cm3

Air (4 derajat Celcius)

1.000 kg/m3

1 gr/cm3

Alkohol

800 kg/m3

0,8 gr/cm3

Air raksa

13.600 kg/m3

13,6 gr/cm3

Aluminium

2.700 kg/m3

2,7 gr/cm3

Besi

7.900 kg/m3

7,9 gr/cm3

Emas

19.300 kg/m3

19,3 gr/cm3

Kuningan

8.400 kg/m3

8,4 gr/cm3

Perak

10.500 kg/m3

10,5 gr/cm3

Platina

21.450 kg/m3

21,45 gr/cm3

Seng

7.140 kg/m3

7,14 gr/cm3

Udara (27 derajat Celcius)

1,2 kg/m3

0,0012 gr/cm3

Es

920 kg/m3

0,92 gr/cm3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. D.     ALAT DAN BAHAN:
    1. 3 buah kelereng yang berbeda ukurannya.
    2. Neraca.
    3. Gelas ukur.
    4. Air secukupnya.

 

  1. E.       PROSEDUR :
    1. Menimbang kelereng I, II, III, kemudian mencatat massanya.
    2. Memasukan kelereng I,II, dan III kedalam gelas ukur, kemudian mencatat volumenya.
    3. Menghitung massa jenis kelereng.
    4. Mengulangi percobaan di atas untuk kelereng yang berbeda.

 

  1. F.       DATA PERCOBAAN.
NO Massa (gr) Volume(ml) Massa jenis (kg/m3)
1.

2.

3.

  2,20

5,05

21,12

 1

3

10

22 × 102

16,83 × 102

21,12 × 102

  1. G.     HASIL PERCOBAAN.
  2. m= 2,20 gr = 2,20 x 10-3kg.

V= 1 ml       = 10-6 m3.

 

= 2,20 x 10-3kg.

10-6 m3.

= 22 × 102 kg/m3

 

 

 

  1. m=5,05gr = 5,05 x 10-3

v= 3ml = 3 x 10-6m3

 

= 5,05 x 10-3kg.

3 x 10-6 m3.

= 16,83 × 102 kg/m3

  1. m=21,12gr = 21,12 x 10-3

v= 10ml = 10 x 10-6m3

 

= 5,05 x 10-3kg.

3 x 10-6 m3.

= 21,12 × 102 kg/m3

  1. H.     KESIMPULAN.

Alhamdulillah Praktikum Menentukan Massa Jenis Benda berhasil.

Dengan hasil sebagai berikut;

Massa jenis:

-          Kelereng I= 22 × 102 kg/m3

-          Kelereng II= 16,83 × 102 kg/m3

-                     Kelereng III= 21,12 × 102 kg/m3

 

 

 

                                                                                                                 Praktikan

SURANTO (XII-IPA2)

 

 

 

 

 

 

 

 

 


LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

MENENTUKAN INDEKS BIAS KACA PLAN PARALEL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NAMA

:

SURANTO
KELAS

:

XII.IPA.2
NO.ABSEN

:

34

Oleh;

 

 

SMA MUHAMMADIYAH WONOSOBO

 

 

MENENTUKAN INDEKS BIAS KACA PLAN PARALEL

  1. A.     TUJUAN:

Untuk menentukan indeks bias kaca plan paralel

 

  1. B.      PELAKSANAAN:

Hari/ tanggal   :  kamis, 23 februari 2012.

Waktu               : Pukul 07:30 – selesai.

Tempat             : Laboratorium fisika SMA Muhammadiyah 1 Wonosobo.

 

  1. C.      DASAR TEORI :

Pembiasan cahaya adalah peristiwa penyimpangan atau pembelokan cahaya karena melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya. Arah pembiasan cahaya dibedakan menjadi dua macam yaitu :

a.      mendekati garis normal

Cahaya dibiaskan mendekati garis normal jika cahaya merambat dari medium optik kurang rapat ke medium optik lebih rapat, contohnya cahaya merambat dari udara ke dalam air.

b.      menjauhi garis normal

Cahaya dibiaskan menjauhi garis normal jika cahaya merambat dari medium optik lebih rapat ke medium optik kurang rapat, contohnya cahaya merambat dari dalam air ke udara.

Syarat-syarat terjadinya pembiasan :

1)      cahaya melalui dua medium yang berbeda kerapatan optiknya;

2)      cahaya datang tidak tegaklurus terhadap bidang batas (sudut datang lebih kecil dari 90O)

Beberapa contoh gejala pembiasan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari diantaranya :

²     dasar kolam terlihat lebih dangkal bila dilihat dari atas.

²     kacamata minus (negatif) atau kacamata plus (positif) dapat membuat jelas pandangan bagi penderita rabun jauh atau rabun dekat karena adanya pembiasan.

²     terjadinya pelangi setelah turun hujan.

1.      Indeks Bias

Pembiasan cahaya dapat terjadi  dikarenakan perbedaan laju cahaya pada kedua medium. Laju cahaya pada medium yang rapat lebih kecil dibandingkan dengan laju cahaya pada medium yang kurang rapat. Menurut Christian Huygens (1629-1695) : “Perbandingan laju cahaya dalam ruang hampa dengan laju cahaya dalam suatu zat dinamakan indeks bias.”

Secara matematis dapat dirumuskan :

Table indek bias beberapa zat

Medium n = c / v
Udara haampa 1,0000
Udara (pada STP) 1,0003
Air 1,333
Es 1,31
Alcohol Etil 1,36
Gliserol 1,48

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

dimana :

-      n = indeks bias

-      c = laju cahaya dalam ruang hampa ( 3 x 108 m/s)

-      v = laju cahaya dalam zat

Indeks bias tidak pernah lebih kecil dari 1 (artinya, n ³1), dan nilainya untuk beberapa zat.

2.      Hukum Snell

Pada sekitar tahun 1621, ilmuwan Belanda bernama Willebrord Snell (1591 –1626) melakukan eksperimen untuk mencari hubungan antara sudut datang dengan sudut bias. Hasil eksperimen ini dikenal dengan nama hukum Snell yang berbunyi :

-         sinar datang, garis normal, dan sinar bias terletak pada satu bidang datar.

-         hasil bagi sinus sudut datang dengan sinus sudut bias merupakan bilangan tetap dan disebut indeks bias.

Ketika cahaya melintas dari suatu medium ke medium lainnya, sebagian cahaya datang dipantulkan pada perbatasan. Sisanya lewat ke medium yang baru. Jika seberkas cahaya datang membentuk sudut terhadap permukaan (bukan hanya tegak lurus), berkas tersebut dibelokkan pada waktu memasuki medium yang baru. Pembelokan ini disebut Pembiasan.

Sudut bias bergantung pada laju cahaya kedua  media dan pada sudut datang. Hubungan analitis antara q1 dan q2 ditemukan secara eksperimental pada sekitar tahun 1621 oleh Willebrord Snell (1591-1626).

 

Hubungan ini dikenal sebagai Hukum Snell dan dituliskan:

                                         n1 sin q1  =  nsin q2

 

qadalah sudut dating, dan q2 adalah sudut bias (keduanya diukur terhadap garis yang tegak lurus permukaan antara kedua media). n1 dan n2 adalah indeks-indeks bias materi tersebut. Berkas-berkas datang dan bias berada pada bidang yang sama, yang juga termasuk garis tegak lurus terhadap permukaan. Hukum Snell merupakan dasar Hukum pembiasan.

Jelas dari hukum Snell bahwa jika n2 n1 maka qq1, artinya jika cahaya memasuki medium dimana n lebih besar (dan lajunya lebih kecil), maka berkas cahaya dibelokkan menuju normal. Dan jika n2 n1, maka qq1, sehingga berkas dibelokkan menjauhi normal

3.      Sudut kritis

Sin i= n/ n1

Yaitu sudut datang yang menhhasilkan sudut bias 900

4.      Pemantulan sempurna

Syarat  : 1.     Sinar dari medium rapat ke renggang

  1. sudut datang > sudut kritis

 Kaca plan paralel atau balok kaca adalah keping kaca tiga dimensi yang kedua sisinya dibuat sejajar

 Berdasarkan gambar di atas, cahaya yang mengenai kaca planparalel akan mengalami dua pembiasan, yaitu pembiasan ketika memasuki kaca planparalel dan pembiasan ketika keluar dari kaca plan paralel.

Pada saat sinar memasuki kaca :

Sinar datang  ( i ) dari udara (medium renggang) ke kaca (medium rapat)  maka akan dibiaskan ( r ) mendekati garis normal ( N ).

Pada saat sinar keluar dari kaca

Sinar datang  ( i’ ) dari udara (medium renggang) ke kaca (medium rapat)  maka akan dibiaskan ( r’ ) menjauhi  garis normal ( N )

Selain itu, sinar yang keluar dari kaca palnparalel mengalami pergeseran sejauh t dari arah semula, dan besarnya pergeseran arah sinar tersebut memenuhi persamaan berikut :

Keterangan :

d = tebal balok kaca, (cm)

i = sudut datang, (°)

r = sudut bias, (°)

t = pergeseran cahaya, (cm)

  1. D.     ALAT DAN BAHAN :
    1. Kaca planparalel.
    2. Jarum pentul.
    3. Stereoform.
    4. Mistar.
    5. Busur.

 

  1. E.      PROSEDUR.
    1. Menyusun alat sebagai berikut

 

 

  1. Meletakkan kaca di atas kertas HVS yang telah diberi alas stereoform.
  2. Menjiplak kaca plan paralel tersebut dengan pensil.
  3. Menancapkan jarum pentul pada posisi 1 dan 2.
  4. Menancapkan jarum pentul pada posisi 3 sehingga seolah olah jarum 1,2, dan 3 terlihat lurus (segaris).
  5. Menancapkan jarum pentul pada posisi 4 sehingga seolah olah jarum 1,2,3, dan 4 terlihat lurus (segaris).mengambil kaca dan seluruh jarum pentul dari kertas HVS.
  6. Menghubungkan jarum 1,2,3, dan 4.
  7. Mengukur besarnya sudut datang dan sudut bias baik pada posisi 1 maupun posisi 2.
  8. Menghitung besarnya indeks bias kaca.

 

  1. F.       DATA PERCOBAAN

NO

Posisi

i(0)

r(0)

n

1.

2.

1

2

20

35

25

25

n=

  1. G.     HASIL PERCOBAAN:
    1. Posisi 1.

n1.sinI1 = n2. Sin r1

  1. Sin20 = n2.sin25

n2 = sin20

Sin25

n2 = 0,342

0,422

=0.810

 

  1. Posisi 2.

n2.sinI2 = n2. Sin r2

1.Sin35 = n2.sin25

n2 = sin35

Sin25

n2 = 0,573

0,422

= 1,357

n total = 2,167

  1. H.     KESIMPULAN.

Alhamdulillah Praktikum Menentukan Indeks Bias Kaca Plan Paralel berhasil dilaksanakan dengan hasil sebagai berikut:

-          n pada posisi 1 = 0,810.

-          n pada posisi 2 = 1,357.

-          n total = 2,167

 

                                                                                                                                                                                                          Praktikan

SURANTO(XII.IPA2)

 

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

MENENTUKAN PERCEPATAN GRAVITASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

NAMA

:

SURANTO
KELAS

:

XII.IPA.2
NO.ABSEN

:

34

Oleh;

 

 

 

SMA MUHAMMADIYAH WONOSOBO

 

 

MENENTUKAN PERCEPATAN GRAFITASI

  1. A.     TUJUAN:

Untuk mengetahui percepatan grafitasi.

 

  1. B.      PELAKSANAAN:

Hari/ tanggal   : kamis, 23 Februari 2012.

Waktu               : Pukul 07:30 – selesai.

Tempat             : Laboratorium Fisika SMA Muhammadiyah 1 Wonosobo.

 

 

  1. C.      DASAR TEORI:

Percepatan gravitasi suatu obyek yang berada pada permukaan laut dikatakan ekivalen dengan 1 g, yang didefinisikan memiliki nilai 9,80665 m/s2. Percepatan di tempat lain seharusnya dikoreksi dari nilai ini sesuai dengan ketinggian dan juga pengaruh benda-benda bermassa besar di sekitarnya. Umumnya digunakan nilai 9,81 m/s2 untuk mudahnya.

rumus umum

Nilai percepatan gravitasi diperoleh dari perumusan umum gaya gravitasi antara dua benda (obyek dan bumi), yaitu

 

di mana

 Pengukuran nilai g

Nilai g dapat diukur dengan berbagai metoda. Bentuk-bentuk paling sederhana misalnya dengan menggunakan pegas atau bandul yang diketahui konstanta-konstantanya. Dengan melakukan pengukuran dapat ditentukan nilai percepatan gravitasi di suatu tempat, yang umumnya berbeda dengan tempat lain.

Dalam bidang fisika bumi dikenal pula metoda gravitasi yaitu suatu metoda pengukuran perbedaan percepatan gravitasi suatu tempat untuk memperkirakan kandungan tanah yang berada di bawah titik pengukuran. Dengan cara ini dapat diduga (bersama-sama dengan pemanfaatan metoda fisika bumi lainnya) struktur dan juga unsur-unsur pembentuk lapisan tanah yang tersusun atas elemen yang memiliki rapat massa yang berbeda-beda.

 

  1. ALAT DAN BAHAN:
    1. Tali.
    2. Pemberat.
    3. Statif.
    4. Stop watch.
    5. Penggaris.

 

  1. E.      PROSEDUR:
    1. Menyusun alat sebagai berikut:

 

 

  1. Mengayunkan pemberat sebanyak 10 kali.
  2. Mencatat waktunya menggunakan stop wacth.
  3. Menghitung periodenya.
  4. Mengulangi percobaan diatas dengan panjang tali yanb berbeda (20,25,30,35)cm.
  5. Membuat grafik percobaan pada kertas berpetak antara T2 vs I dari tabel perbobaan.
  6. Mencari slope/ gradien dari tabel tersebut.
  7. Menghitung percepatan grafitasinya.

 

  1. F.       DATA PERCOBAAN:
NO I(cm) N t(s) T(s)
1.

2.

3.

4.

20cm

25cm

30cm

35cm

10 x

10 x

10 x

10 x

08,92

09,88

10,86

11,92

0,892

0,988

1,086

1,192

 

  1. G.     HASIL PERCOBAAN:
    1. Grafik T2  dan l (TERLAMPIR).
    2. Perhitungan:

       4π2   y

g        x

4×3,142   =  ………….

g

 

 

 

 

 

  1. H.     KESIMPULAN:

Besar grafitasi adalah sama dengan

 

 

 

 

                                                                                                                                                                                                                     Praktikan                  

SURANTO(XII.IPA-2)

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.